Thursday, April 7, 2016

Kisah Heroik Sahabat Nabi Talhah  bin Ubaidillah


Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin terdesak, para shahabat yang menyadari bahaya yang sedang mengancam Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjuang habis-habisan demi menyelamatkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Tercatat dalam sejarah dengan tinta emas, perjuangan yang dilakukan Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu anhu . Beliau Radhiyallahu anhu bertempur mempertaruhkan nyawa sampai telapak tangan yang beliau Radhiyallahu anhu pergunakan untuk membela Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa difungsikan lagi[3] . Thalhah inilah yang menyangga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya bisa naik ke bebatuan ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di kepung oleh pasukan Quraisy. Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Thalhah pasti masuk surge[4] . Dalam riwayat lain, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى شَهِيْدٍ يَمْشِي عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ الله
Barangsiapa yang ingin melihat syahîd (orang yang mati syahîd) yang masih berjalan di muka bumi maka hendaklah dia melihat Thalhah bin Ubaidillah.”[5]

Sunday, February 17, 2013

Privat Baca Al-Qur'an di Pekanbaru Hub: 085271953506

Assalmualaikum wr.wb...
Kaifa Halukum ya Ikhwahifillah rohimakumullah...

Semoga senantiasa dalam naungan cinta dan kasih sayang Allah SWT.

Membaca Al-Qur'an adalah modal utama dan penting dalam pembentukan Islamic Character Building Umat Muslim. Sehingga, ianya menjadi cita2dari setiap insan Muslim untuk bisa Fasih dan lancar membaca dan mengamalkannya. 
Buat Adek-adek ataupun kakak, Ibu-ibu n Bapak, yang pengen belajar Al-Qur'an supaya lancar dan bagus bacaannya, jangan bingung mau mencari guru privat untuk anda. Kami siap mendampngi, membimbing dan membina adek2 n kakak2, Ibu2 n Bapak semuanya, Insyaallah. Dengan didukung oleh para pengajar dari kalangan mahasiswa yang memiliki background pendidikan Islam, kami siap menjadi partner sukses anda dalam menggapai cita2 anda yang mulia tersebut. Sebagai bahan pertimbangan, kami menawarkan jasa sebagai berikut:

Jadwal: Seminggu 3 kali, waktu dapat disesuaikan.
Durasi: 1 jam (60 menit regular)
Tempat: Dirumah/Masjid/Musholla disesuaikan dg santri.
Jumlah santri: Bisa Sendiri/Bareng2



*Di Persembahkan oleh: "Syababul Islam"
*Contact Person: Via SMS; 085271953506 (Fuad Al-Fadhil)
*Tenaga Pengajar Muda, Enerjik, Berkompeten dan siap di TEst kapan aja...........

Tuesday, May 29, 2012

Hadiah Untuk Ibu & Ayah... (^_^)

Hadits riwayat Bukhari bahwa seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah yang lebih berhak untuk saya berbuat baik?” Baginda menjawab: ”Ibumu.” Dia berkata: “kemudian siapa?” ”Ibumu,” jawab beliau. “Kemudian siapa?” lelaki itu bertanya untuk yang ketiga kali. “Ibumu,” sama jawaban beliau seperti yang sebelumnya. “Kemudian siapa?” dia masih bertanya dengan pertanyaan serupa. Akhirnya, barulah Nabi SAW menjawab, “Kemudian ayahmu.”

Selain menghadiahkan ayah dan ibu kasih sayang, baik rasanya memberikan yang terindah untuk mereka berupa untaian doa di setiap selesai shalat kita. Doa adalah hadiah terindah yang akan sampai kapan pun dan dimana jua mereka berada. Doa yang menghubungkan hati, dan menautkan kita selalu pada Sang Pemilik hidup dan cinta. Agar Allah juga mencintai mereka.

Iringan doa: “Ya Allah, Ampunilah kedua orang tuaku. Anugerahkan mereka, kesehatan, kekuatan, kesejahteraan dan tidak mudah lupa. Agar mereka dapat menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang Engkau perintahkan. Aku mohon perlindungan-Mu terhadap mereka agar mereka terhindar dari siksa kubur dan siksa api neraka.” Aamiin.

Boleh jadi setiap keindahan dan kenikmatan yang kita rasakan saat ini adalah wujud dari terkabulkannya doa orang tua kita. Betapa mulianya posisi orang tua kita dengan segala perjuangannya. Ridho Allah adalah ridha mereka. Sekarang bagaimana kita menempatkan diri?

Seorang anak selamat dari marabahaya, dimudahkan segala urusan dan banyak kenikmatan yang dirasakan. Semua itu adalah wujud keridhaan dan kasih sayang mereka agar anak selalu dalam lindungan Allah SWT.

Kita bayangkan betapa semasa menunggu kelahiran kita dahulu, ayah dan ibu sibuk menyediakan berbagai hadiah untuk kita. Mereka ingin berikan yang terbaik untuk kita. Mereka tidak ada kata malas berjuang demi anaknya. Tetes keringat, air mata dan darah yang mereka korbankan tidak mengenal kata balas jasa. Mereka hanya inginkan kita tetap terjaga, sehat dan selalu bahagia.

Saat kita telah dewasa, mereka amat sabar dengan semua perangai kita. Mereka korbankan harta, jiwa dan semua yang mereka miliki untuk kita. Dan mereka tiada enggan memberikan yang terbaik untuk kita. Nasihat, usaha dan doa mereka selalu ada untuk kita.

Allah sangat suka kepada mereka yang berdoa. Doa adalah wujud kelemahan kita, penghambaan kita dan permohonan seorang hamba kepada Tuhan-nya. Doa yang di tuturkan dengan baik, penuh adab, meletakkan harapan penuh kepada Allah semata. Maka Allah akan Mendengar dan Mengabulkan setiap doa.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah: sesungguhnya Aku sangat dekat, Aku perkenankan setiap doa seseorang yang berdoa apabila dia meminta kepada-Ku.” Q.S. Al Baqarah 186.

Oleh karena itu, tidakkah kita ingin persembahkan yang terbaik untuk mereka. Memberikan kesenangan dan doa yang terindah untuk mereka. Dalam riwayat at-Tirmidzi dan al-Hakim, Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Keridhaan Allah terletak pada keridhaan ibu dan ayah, dan kemurkaan Allah terletak pada kemarahan ibu ayah.”

Untuk itu kita berusaha, sebelum terlambat. Sebelum kita berada di garis “finish” kehidupan kita. Untuk mengabdi dan senantiasa ingat untuk selalu hidup dalam keislaman. Selalu meletakkan al-Quran dan hadits.

Bakti yang dapat kita rujuk dari Al-Qur’an dan Hadits:
Firman Allah SWT dalam surah al-Isra’ ayat 23-24 bermaksud: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibumu dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu di antara keduanya atau kedua-duanya sampai lanjut usia dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali jangan ucapkan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangi dan mengasihiku sewaktu kecil.”
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan daripada Ibn Mas’ud RA, beliau berkata yang bermaksud: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Apakah amalan yang paling dicintai Allah?’ baginda menjawab,’Sholat pada waktu (utama)nya. Aku bertanya, ‘Kemudian apa lagi?’ Baginda menjawab, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya, ‘Kemudian apalagi?’ Baginda menjawab, ‘Berjihad fi sabilillah.’”
Muslim meriwayatkan daripada Abu Hurairah RA, dari Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Celakalah…celakalah…dan celakalah! Yaitu orang yang mempunyai ibu bapak yang sudah tua sama ada seorang atau kedua mereka tetapi dia tidak berhak masuk surga, karena dia tidak berbuat baik kepada ibu bapaknya.”
Muslim meriwayatkan daripada Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “sesungguhnya kebaikan yang paling utama adalah seseorang memelihara hubungan baik dengan orang tuanya.

Saat kita mampu berbakti dan berbuat baik kepada orang tua kita, itulah contoh yang kita berikan kepada anak-anak kita. Kita menginginkan agar kelak mereka juga mampu menjadi yang terbaik untuk bekal kita.

Saat kematian datang tiada amalan yang akan mampu menemani kita selain 3 hal: amal shalih kita, anak yang shalih dan shalihah dan dari ilmu kita yang bermanfaat. Semua tidak dapat kita lakukan lagi, tapi setidaknya kita memiliki deposito yang akan kita rasakan di alam kubur nanti.

**percikan dari berbagai ilmu yang diperoleh dari ceramah, buku, dan majalah Islam, semoga menjadikan diri ini secara pribadi dapat menjadi lebih baik. Muhasabah diri dalam Menyambut hari ibu di Negara jiran. Nyadar diri, bahwa diri ini bukan malaikat yang sempurna. Ingin setiap tulisan ini menjadi motivasi dan cambuk diri agar lebih baik. Semoga Allah ridha setiap langkah kebaikan ini untuk bekal menghadap-Nya dengan sebaik-baik taqwa dan iman. Agar surga bisa diraih…Allahu ‘alam bisshawab…

Saturday, March 10, 2012

"Istirahat Kita di Surga..!?"

Itulah kata-kata yang sering terlontar di antara sesama aktivis dakwah ketika kelelahan menggerogoti tubuh, kejemuan meluapkan resah, dan himpitan kesulitan tak henti-hentinya menghampiri silih berganti.

Ada yang terkadang terbesit di dalam pikiran ini, antara optimisme dan kekhawatiran bahwa ucapan itu memiliki konsekuensi berat yang sama sekali tak mampu dipandang sebelah mata. Memang benar jalan ini bukan jalan landai dan penuh bunga, juga bukan jalanan indah yang ujung horizonnya mampu dilihat. Namun, jalan ini adalah jalan orang-orang yang jarang melewatinya, jalan yang bahkan bisa membuat yang melaluinya ambruk tak berdaya, juga jalanan yang sama sekali tidak diketahui ujung rimbanya kecuali hanya berharap yang terbaik kepada Allah ta’ala.
Jalan ini menuntut siapa pun yang melaluinya berupaya sekuat tenaga, mengorbankan hal terindah dan terpenting dalam hidupnya, bersedia dikucilkan dan memperoleh anggapan miring dari berbagai belantara. Terjatuh, terpuruk, tersungkur, bahkan bisa jadi terhapus –atau dihapus paksa– dari coretan nama-nama dunia.
Jalan ini membuat mereka-mereka yang melaluinya terkadang jatuh tak berdaya, berjalan lunglai dengan sisa-sisa tenaga, atau beradu resah dengan tiap detik yang mengancam di setiap inchi kutipan hidupnya.
Maka janji Allah-lah yang menjadi pemantik semangatnya, pembakar gelora di dadanya, dan membuat ia utuh tegak kembali setelah sebelumnya bagaikan jasad sepi yang ditinggal sendiri oleh ruh semata wayangnya.
Inilah janji itu:
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al-Baqarah: 25).
Begitu pula janji Allah lainnya, namun masih memiliki makna yang sama:
“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera. (QS. Al-Hajj: 23).

Indahnya janji ini
Sungguh, betapa indahnya janji itu, surga yang dipenuhi kebun-kebun, sungai-sungai, buah-buahan, dan purwarupa kenikmatan yang bahkan sama sekali tidak pernah terbesit sedikit pun dalam pikiran dan benak manusia yang begitu lemah. Dan, tentu saja Allah adalah sebaik-baik penepat janji.
Pertanyaannya sekarang adalah, pantaskah kita diberi ganjaran masuk ke dalam surga-Nya? Sudahkah kita termasuk ke dalam orang-orang beriman dan yang beramal shalih? Apakah kita merupakan pribadi yang pantas menerima kenikmatan yang begitu hebatnya? Pantaskah?
Meskipun kita bekerja di jalan dakwah, bukankah pernah kita mengeluh dalam kelelahan dan kelemahan ini? Meskipun kita berjuang di jalan dakwah, bukankah kita pernah enggan untuk pergi meski tak seberat berjalannya pasukan mukmin di perang Badar? Meskipun kita berkorban di jalan dakwah, bukankah sering hati ini tidak ikhlas terhadap ketentuan-Nya? Lalu, dari sisi apa kita pantas mendapat surga-Nya? Lalu menurut pandangan siapa kelak kita akan beristirahat di surga-Nya?
“Ya Allah, bahkan di perca-perca amalan yang kami lakukan terkadang masih terbesit riya’ dan sum’ah yang mengekang. Yaa Allah, ampunilah kami dalam berbagai kelemahan dan keburukan kami, dan pantaskanlah kami menerima Jannah-Mu dan lindungi kami, keluarga kami, saudara-saudari kami yang beriman kepada-Mu dari dahsyatnya siksa neraka yang bahkan pedihnya tak terbesit di dalam hati ini.”

Source: Dakwatuna.com

Tuesday, February 21, 2012

Now, Prove it...!!!


Revolusi telah merubah alam, dan kau…!!!
Masihkah hanya diam di langkahmu tak bergerak
Seperti dongohmu telah kau rasa itu mengasyikan
Haripun kau sadari telah menghentikan detak hatimu
Tapi apa yang sedang kau pikirkan…???
Apa yang sedang kau perbuat…???
Kau hanya bisa menghayalkan masa esokmu
Tak coba kau raih itu, tak pula ayunkan kakimu
  Sepertinya kau adalah sang pemimpi sejat

Aku tahu mungkin sudah kau rencana harimu
Dalam benakmu layaknya peta hidupmu
Tapi apa..???
Itu hanya gambaranmu semata ,Hanya sebatas imajinasimu saja
Apa kau sudah puas dengan menyandang gelar “ Pecundang “
Gelar yang kau pertaruhkan dengan sikapmu yang anti “ Resiko “
Jika kau menolak dan tak setuju dengan itu
Sekarang biarkan dunia bisa saksikan bahwa kau “ Bukan pecundang “
Kalau engkau adalah “ Pejuang hidupmu ” yang suka “ Resiko ”
Karena hidup ini penuh “ Resiko ” dan “ Tantangan ”
Dan kau harus tahu itu, tahu sebenar-benarnya
Biarkan pula aku saksikan bahwa kamu “ Bisa ”
Merubah mimpi dan hayalmu jadi realitamu juga kenyataanmu
Bukan imajinasi juga gambaranmu semata
Aku yakin kamu “ Bisa”, kamu “ Mampu ”
Lakukan sekarang, jangan ulur lagi waktumu
Jangan tunggu esok hari kan tiba mengejarmu
Sekarang …!!!!
Buktikan…!!!!

Seikat Cinta



Cinta, ya Cinta, sebuah kata yang sarat dengan makna. Tak ada seorang manusia pun di dunia ini yang tak mengenal cinta
Karena cinta sesungguhnya telah ada sebelum manusia itu ada. Ia akan terus tumbuh dan bersemi di dada, meski manusia itu sendiri telah tiada.
Mari maknai cinta itu dengan kelembutan, kasih sayang dan perhatian yang sepenuh hati
Agar cinta itu benar-benar dapat menemukan kesejatiannya dan ketulusannya
Tanpa harus dibumbui oleh prasangka dan ego di dada
Karena Sesungguhnya, Cinta itu adalah :

Ketika hatimu terluka tapi mampu untuk memaafkannya
Ketika hatimu menangis tapi mampu untuk tersenyum karenanya
Ketika hatimu bersumpah untuk setia walau ia telah mengkhianatimu
Ketika hatimu mampu membahagiakannya tanpa meminta balasan darinya
Ketika kamu mencintainya tanpa kenal waktu
Ketika kamu tersenyum walau hatimu terluka
Ketika kamu mengalah meski pendapatmu benar
Ketika kamu mampu untuk memaafkannya tanpa ia pinta
Ketika engkau tertawa oleh ocehannya yang tak pernah lucu
Ketika engkau memberi apa yang paling engkau sukai
Ketika engkau mau menerima apa yang tidak kamu sukai darinya
Ketika engkau selalu mengharapkan kehadirannya
Ketika ketulusan menjadi panji-panji cintamu
Ketika kejujuran selalu menghiasi setiap ucapanmu
Ketika kesetiaan menjadi tanda tangan cintamu
ketika perhatian adalah makanan keseharianmu.

Tuesday, February 14, 2012

-(^)- Excuse oh EXCUSE...-(^)-

Dalam kehidupan, kita seringkali menghabiskan sebagian energi berpikir kita untuk mencari-cari alasan agar mendapat pemakluman atas kelalaian-kelalaian yang kita lakukan. Mulai dari hal-hal yang hanya berdampak pada diri sendiri, seperti nilai ujian yang rendah dengan dalih soal yang terlalu sulit, dosen yang ga bisa ngajar, diri kita yang diberi beban amanah yang terlalu berat sehingga akademik terbengkalai, dan sebagainya dan sebagainya... Tak sulit kan mencari alasan dan pembenaran? Tapi mengapa begitu sulit untuk mengakui saja, nilai saya rendah karena saya yang lalai dalam belajar, saya  yang lalai me-manage waktu. Terlambat datang ke kantor dengan dalih jalanan macet, semalam begadang karena lembur, sedang gak fit, dsb.... Kenyataannya, ketidakdisiplinan kita lah yang membuat kita terlambat. Jalanan memang selalu macet, harusnya kita berangkat lebih pagi, bukan? Kenapa sampai lembur? apakah karena kelalaian kita di waktu-waktu terdahulu yang tidak disiplin menyelesaikan tugas segera sehingga menumpuk di akhir? badan gak fit karena kita yang tidak pandai merawat diri, makan dan tidur tidak teratur, malas berolahraga, makan sembarangan. Sampai kapan mau terus mencari PEMBENARAN atas setiap kelalaian kita? Bukankah hal itu hanya akan membuat kita layak disebut pengecut yang tak mampu mengakui kesalahan?

Dalam lingkup dakwah dan tarbiyah, seni mencari alasan sering kita sebut dengan "manajemen afwan", dan ijin-pun akan mudah diberikan atas nama ukhuwah dan sikap husnudzon. Tentu banyak agenda-agenda dakwah yang sering kita lewatkan dengan berbagai alasan

"Afwan, ana tidak bisa hadir dalam syuro, ada acara keluarga."
"Afwan, ana tidak bisa ikut halaqoh hari ini, besok ana uas."
"Afwan, ana tidak bisa mengisi mentoring, ana lagi ga mood."
"Afwan, ana terlambat hadir, tadi ana nganter istri dulu."
"Afwan, ana ga bisa menyelesaikan amanah-amanah ana, ana lagi banyak tugas kuliah."
dan segudang alasan lainnya... apakah sering mendengar yang seperti ini?

Tapi kan kita selalu diminta untuk selalu berhusnudzon pada saudara seiman, bukan? Tentu mendapati berbagai permintaan ijin seperti itu kita hanya bisa tersenyum dan menerima alasan-alasan tersebut.

Qiyadah, murobbi, mas'ul, dan saudara-saudara seperjuangan kita tentu akan memaklumkan dan memberikan ijin atas berbagai alasan "terbaik" yang kita sampaikan agar bisa "kabur" dari pertemuan pengikat hati & penguat ruhiyah dan amanah-amanah dakwah kita.

Kita memang menikmati ‘izin’ yg diberikan. Tetapi, apakah dihadapan Allah masalahnya juga ‘selesai’? dalam masalah2 dakwah, tarbiyah, dan akhirat orang-orang beriman tidak semestinya banyak meminta izin.

"Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan
meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri
mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa."
(QS.9:4)   

Sedikit mengingat siroh, sekelumit kisah tentang perang tabuk:
Satu kali, datanglah sekumpulan orang Islam minta izin kepada Rasulullah untuk tidak ikut dalam perang tabuk, dan Rasulullah mengizinkannya maka turunlah firman Allah:
"Semoga Allah mema’afkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?" (QS 9:43)
Itulah maksudnya, andaikan pun kita diizinkan dengan alasan kita, belum tentu selesai urusan dengan Allah karena IA Maha Tahu apa yg dalam hati kita.
Sepertinya kita harus mulai berhati-hati dengan sikap mencari-cari alasan dan "manajemen afwan". Ada kalanya karena dari awal azzam kita kurang kuat dan niat kita kurang bulat maka Allah tidak ridho dengan itu dan dijadikanlah kita golongan yg tertinggal.

"Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan
untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan
mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada
mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.”"
(QS. 9:46)
Maka jika dari awal kita berniat untuk tidak hadir, biasanya, akan selalu muncul alasan untuk itu. Sebabnya bisa jadi, karena Allah tidak menghendaki mereka yg niatnya tidak bulat, azzamnya kurang kuat untuk ikut, bisa-bisa malah menambah masalah.
"Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim." (QS. 9:47)
Yaa, perjalanan dakwah ini memang tak selalu mulus. Pasti kita akan dihadapkan dengan berbagai kondisi yang menguji keistiqomahan kita dalam menapaki jalan para anbiya ini. Mulai dari kelemahan azzam, rasa malas, rasa jenuh, ketidaknyamanan, banyaknya pilihan aktivitas lain yang lebih menggiurkan, masalah keuangan, keterbatasan dana, kondisi lingkungan yang kurang kondusif, obsesi terhadap dunia yang lebih besar, intimidasi dari pihak-pihak yang tidak suka dengan kebangkitan Islam, dan lain sebagainya. Ini adalah Sunnatullah.

Jalan dakwah adalah jalan yang mulia dan mahal. Sesungguhnya itulah jalan surga dan diridhai Allah, itulah jalan Allah. "Hai Tuhan kami, tetapkanlah tapak-tapak kaki kami di atas jalanMu".

Jalan dakwah adalah jalan yang dipenuhi dengan segala perkara yang dibenci oleh hawa nafsu dan bukan merupakan jalan yang ditaburi bunga-bunga yang mewangi. Banyak rintangan yang menghalangi dan banyak penyelewengan yang mungkin terjadi dalam beberapa aspek yang menjauhkan orang yang berjalan di atas jalannya.

"Alif Lam Mim. Adakah manusia menyangka bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: "Kami telah beriman", sedangkan mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta".(Al-Ankabut: 1-3)

SUDAH SAATNYA KITA MENINGGALKAN "MANAJEMEN AFWAN", DAN MENJADI ORANG-ORANG DALAM BARISAN TERDEPAN DALAM MEMENUHI PANGGILAN JIHAD DAN MEMENUHI AMANAH-AMANAH KITA. BERHENTI BERLINDUNG DI BALIK ALASAN ATAS SETIAP KELALAIAN YANG KITA BUAT.
KESUKSESAN DAKWAH HANYA DICAPAI BILA PARA PENGUSUNGNYA, PARA AKTIVISNYA, PARA DAI-NYA MEMPUNYAI KOMITMEN DAN AZZAM YANG KUAT.
BUKAN DICAPAI OLEH ORANG-ORANG YANG HANYA PANDAI MENCARI-CARI ALASAN ATAS SETIAP KELALAIAN.
SEMUANYA BERPULANG PADA DIRI KITA SENDIRI, SETIAP HAMBATAN SELALU PUNYA SOLUSI. HAMBATAN DAN TANTANGAN UNTUK DITAKLUKKAN, UJIAN UNTUK DISELESAIKAN DENGAN CARA TERBAIK DAN HASIL TEROPTIMAL.
MARI KITA BERAZZAM UNTUK MENGHAPUS "ALASAN UNTUK LARI DARI DAKWAH"
DAN MENGGANTINYA DENGAN "ALASAN UNTUK HADIR TEPAT WAKTU, ALASAN UNTUK TERUS BERDAKWAH DALAM BERBAGAI KONDISI, ALASAN UNTUK TERUS HADIR DALAM LINGKARAN YANG SELALU MENYEBUT NAMA ALLAH, ALASAN UNTUK MENGIKUTI BERBAGAI KAJIAN ISLAM YANG MENINGKATKAN KAFAAH KITA, ALASAN UNTUK HADIR SYURO, ALASAN UNTUK HADIR TATSQIF, ALASAN UNTUK HADIR HALAQAH, ALASAN UNTUK IKUT MUKHOYYAM, ALASAN UNTUK IKUT RIHLAH, ALASAN UNTUK MENGISI PENGAJIAN, TPA, MENTORING, HALAQAH, ALASAN UNTUK TERLIBAT DALAM SETIAP AGENDA DAKWAH."
TERUSLAH MENCARI ALASAN UNTUK TERUS BERADA DALAM JALAN KEBAIKAN DAN UNTUK BERAMAL DENGAN AMAL-AMAL TERBAIK.
JANGAN MAU JADI ORANG YANG TERTINGGAL!
"Dan jika kamu berpaling, maka ALLAH akan gantikan dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan jadi seperti kamu" (Qs. 47: 38).

SELAMAT BERJUANG DAN KEEP ISTIQOMAH!!!

_Bunga (setegar) Karang_