Friday, January 20, 2012

Menjadikan Anak Kita Lelaki Peminang Bidadari

DARI RAHIM YANG DICATAT SEJARAH

Ketika Imam Syaifii di tanya sejak kapan beliau mendidik anak, maka jawabannya sungguh diluar dugaan.
"Sejak aku belum menikah" Kata Beliau
"Aku mencarikan Istri yang baik lagi sholeha, sebagai tempat lahirnya anak-anakku" lanjut beliau.

Iya Benar
Disini kita tak boleh salah pilih.
karena Istri adalah sebagian dari darah...
sebagian dari nyawa.....
yang akan membentuk Karakter anak itu kelak
maka mengetahui latar belakang akhlak calon istri
adalah wajib hukumnya

Lihatlah  bagaimana Umar Ibn Khattab, menikahkan putranya, dengan seorang gadis  jujur, yang ia dengar percakapan gadis itu dengan ibunya, dimana gadis  itu menolak mencampurkan susu dengan air, karena itu adalah perbuatan  curang lagi tercela, sekaligus dosa

Maka dinikahkanlah Gadis itu dengan putranya..
kelak lahirlah dari rahim gadis itu cucu Umar Ibn Khattab
yang kita kenal juga dengan nama Umar
Umar  bin Abdul Aziz....Penyelamat sejarah Bani Umayyah, sekaligus termasuk  dalam kategori Khalifah ke 5 diluar dari 4 Khalifah yang kita kenal

Maka bagaimana mungkin akan lahir Generasi Rabbani
jika Calon Istrimu
memiliki sejarah hitam dalam lumpur maksiat
maka buanglah cintamu itu di pojok sejarah...
Carilah Istri, yang Sholeha lagi Cantik dan Baik Hati..
disana lah Rahim itu akan mencatat generasi baru
Generasi Rabbani

3 KONSEP MEWARNAKAN JIWA PUTIH ITU

Ali bin Abu Thalib, membagi 3 tahapan dalam pendidikan atau Tarbiyah anak, yang harus dilakukan orang tua

Pertama
Usia 0-7 Tahun Menjadikan anak Ibarat Seorang Raja
pada usia ini, adalah usia dimana anak-anak harus menikmati masa kanak-kanaknya
maka isilah dengan pola-pola pembelajaran akhlak dalam suasana bermain
inilah awal menanamkan tunas itu
menanamkan karakter itu.....

Kedua
Usia 7-14 Tahun, jadikan anak Ibarat Tawanan Perang
maksudnya, pada rentang usia itu
Disiplin adalah nafasnya
adalah unsur dominannya
Sholat mulai di peringatkan
mulai di beri sanksi jika lalai melaksanakan sholat...

pada usia ini pula diberikan Pelatihan-pelatihan Beladiri untuk anak laki-laki, agar unsur Maskulinnya menguat..

Ketiga
Usia 14-dst menjadikan anak sebagai Seorang Sahabat
pada rentang Usia ini, dialog dari hati kehati adalah kewajiban orang tua
sapaan bersahabat adalah menu sehari-hari
maka akan terbukalah jiwanya
maka akan mudahlah kita menyempurnakan karakternya

Kelak ketika kita merasa dirinya sudah cukup matang
ketika dirimu mengatakan...
"Nak Mau kah engkau Menikah..., abi Insya Alloh mempunyai data wanita sholeha untukmu..."

Maka ia hanya tersenyum pasti...
"Ananda ikut abi dan Ummi saja, Insya Alloh pilihan Abi dan Ummi adalah yang terbaik buat ananda..."

Maka Lahirlah Gerenarsi Umar bin Abdul Aziz Baru....
Maka Lahirlah Generasi Imam Syafii Baru....

JANGAN BIARKAN CITA-CITA MENGALIR BEGITU SAJA
DI KONSEP DAN EVALUASI SELALU SETIAP SAAT !!!

Engkau Harus Sadar !!
Ketika engkau menikah !!
Maka Harus mempunyai cita-cita
yang Tinggi
Besar
dan Bening...

Surga Alloh...!!
itulah cita-cita kita semua

Maka jangan biarkan mengalir...!
karena jika mengalir cita-cita itu tak terkendali

Dikonsep  !!
di evaluasi !!

agar setiap saat kita bisa mengukur
masih dekatkah darmaga kita akan melabuhkan kapal ini...!!
atau Masih Jauh ??
atau berbalik arah ??
atau mulai Karam ??
mengukur semua itu
hanya bisa lewat konsep yang jelas...!!
Terang
seterang Matahari

LELAKI PEMINANG SURGA
adalah bahasa kiasan
dari arti, melahirkan generasi Rabbani
yang lahir dari keturunanmu
keturunanku
keturunan kita semua....

Semoga Alloh mencatatnya sebagai cita dan doa yang terijabah

Thursday, January 19, 2012

[KISAH POHON APEL] Untuk kedua OrangTuaku: Maafkan Aku

Dahulu kala, ada sebuah pohon apel besar. Seorang anak kecil suka  datang dan bermain-main setiap hari. Dia senang naik ke atas pohon,  makan apel, tidur sejenak di bawah bayang-bayang pohon apel … Ia  mencintai pohon apel iu dan pohon itu senang bermain dengan dia. Waktu  berlalu …….

Anak kecil itu sudah dewasa dan dia berhari-hari  tidak lagi bermain di sekitar pohon. Suatu hari anak itu datang kembali  ke pohon dan ia tampak sedih. “Ayo bermain dengan saya,” pinta pohon  apel itu. Aku bukan lagi seorang anak, saya tidak ‘bermain di sekitar  pohon lagi. “Anak itu menjawab,” Aku ingin mainan. Aku butuh uang untuk  membelinya. “” Maaf, tapi saya tidak punya uang ….. tapi Anda bisa  mengambil buah apel saya dan menjualnya. Maka Anda akan punya uang.  “Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua apel di pohon dan  pergi dengan gembira. Anak itu tidak pernah kembali setelah ia mengambil  buah apel. Pohon itu sedih.

Suatu hari anak itu kembali dan  pohon itu sangat senang. “Ayo bermain-main dengan saya” kata pohon apel.  Saya tidak punya waktu untuk bermain. Aku harus bekerja untuk  keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Dapatkah Anda  membantu saya? “Maaf tapi aku tidak punya rumah. Tetapi Anda dapat  memotong cabang-cabang saya untuk membangun rumahmu.” Lalu, anak lelaki  itu menebang semua dahan dan ranting dari pohon dan pergi dengan  gembira. Pohon itu senang melihatnya bahagia, tapi anak itu tidak pernah  kembali sejak saat itu.

Pohon itu kesepian dan sedih. Suatu  hari di musim panas, anak itu kembali dan pohon itu begitu gembira. “Ayo  bermain-main dengan saya!” kata pohon. “Saya sangat sedih dan mulai  tua. Saya ingin pergi berlayar untuk bersantai dengan diriku sendiri.  Dapatkah kau memberiku perahu?” … “Gunakan batang pohonku untuk  membangun perahu. Anda dapat berlayar jauh dan menjadi bahagia.” Lalu  anak itu memotong batang pohon untuk membuat perahu. Dia pergi berlayar  dan tak pernah muncul untuk waktu yang sangat panjang.

Akhirnya, anak itu kembali setelah ia pergi selama bertahun-tahun.  “Maaf, anakku, tapi aku tidak punya apa-apa untuk Anda lagi. Tidak ada  lagi apel untuk ananda. …” kata pohon “…..
” Saya tidak punya gigi untuk menggigit “jawab anak itu.”
” Tidak ada lagi batang bagi Anda untuk memanjat” .
“Saya terlalu tua untuk itu sekarang” kata anak itu.”
“Saya benar-benar tak bisa memberikan apa-apa ….. satu-satunya yang  tersisa adalah akar sekarat” kata pohon apel dengan air mata.
“Aku  tidak membutuhkan banyak sekarang, hanya sebuah tempat untuk  beristirahat. Saya lelah setelah sekian tahun.” Anak itu menjawab.
“Bagus! Akar Pohon Tua adalah tempat terbaik untuk bersandar dan  beristirahat di situ.” “Ayo, ayo duduk bersama saya dan istirahat”
Anak itu duduk dan pohon itu sangat gembira dan tersenyum dengan air mata.

……………………..

Ini adalah cerita untuk semua orang. Pohon adalah orang tua kita.  Ketika kita masih muda, kita senang bermain dengan Ibu dan Ayah … Ketika  kita tumbuh dewasa, kita meninggalkan mereka … hanya datang kepada  mereka ketika kita memerlukan sesuatu atau ketika kita berada dalam  kesulitan. Tidak peduli apa pun, orang tua akan selalu berada di sana  dan memberikan segala sesuatu yang mereka bisa untuk membuat Anda  bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak laki-laki itu kejam kepada  pohon tapi itu adalah bagaimana kita semua memperlakukan orang tua kita.

Hayatilah - detik2 terakhir Rasulullah SAW menghadapi sakaratulmaut

Hayatilah…

Utk Renungan Bersama ...

Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan khutbah, 'Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya.. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Ku wariskan dua perkara pada kalian, Al-Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.' Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu.

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar adanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. 'Rasulullah akan meninggalkan kita semua,' keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.


Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. 'Bolehkah saya masuk?' tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, 'Maafkanlah, ayahku sedang demam,' kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, 'Siapakah itu wahai anakku?'


'Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,' tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. 'Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,' kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.


Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

'Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?' Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. 'Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu, ' kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. 'Engkau tidak senang mendengar khabar ini?' Tanya Jibril lagi. 'Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?' 'Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Ku haramkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,' kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. 'Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.' Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. 'Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?' Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. 'Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,' kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. 'Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. 'Badan Rasulullah mulai dingin , kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya 'Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku', peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.' Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.'Ummatii, ummatii, ummatiii?'


'Umatku, umatku, umatku' Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin....

Wednesday, January 18, 2012

Rain

Butiran hujan tiada menyakitkan
Namun hadirnya seringkali di abaikan
Dengan cacian, dengan hinaan
Luruh bersama taburan air di atas bumi

Sang hujan titipan Sang Maha Rahman
Menghantarkan kasih sayang
Bukti cinta terdalam

Di antara tetesannya
Ada pengampunan dosa para hamba yang bertaubat
Di antara tetesannya
Ada pengabulan dari doa terdalam para hamba

Rintikan hujan yang berkelana
Di titik gersang sudut bumi
Menyiratkan senyum dari sekeping asa
Setelah masa pejamkan asa

Dan dia tetaplah hujan
Nikmatnya terbawa pada kesyukuran
Celakanya terselip pada hinaan

Dan hujan tetaplah rahmat
Dan hujan adalah rezeki

Bahwa hujan penyubur tanaman
Juga penyubur iman

Monday, January 16, 2012

Nol Bukan Kosong..!!!

Segala hal yang diciptakan oleh Allah mengandung banyak pelajaran.
Tak terkecuali angka nol.
Banyak orang yang menganggap amalan-amalan kecil bernilai kosong, bukan nol.
Akibatnya, banyak yang tidak mau mengerjakan amal-amal kecil. Memungut sampah di jalan, misalnya.